Tuesday, May 27, 2014

Kerja Sederhana


Saya sedang mempercayai bahwa kerja cepat dan buruk lebih baik dari pada bekerja bagus tapi lambat.

Apa pekerjaan kita? Sesederhana apa cara kita melakukannya? Secepat apa kita mendapatkan jumlah yang banyak, tapi buruk?

Saturday, February 8, 2014

Gadis Pantai dan Cintanya Pramoedya

Kembali pada resolusi saya, one book one post. Saya mengaku mengalami fase tertentu yang membuat saya tidak bisa menuliskan ulasan-ulasan buku yang saya baca, langsung setelah saya membacanya. Dalam pembacaan dua buku terakhir --Gadis Pantai dan Sang Alkemis, tepat setelah menyelesaikajn halaman terakhir, saya mengalami fase blank dan tidak bisa mengomentari apapun yang ada dalam kedua novel tersebut. Saya tidak tahu, apakah ini wajar atau saya yang malas menulis. Tapi apapun itu, saya akan tetap menjalaninya. Saya akan tetap menjalankan rencana saya. Karena bagaimanapun, saya merasakan hal yang lain semenjak merencanakan membaca buku dan menuliskan ulasannya, yang membuat saya selalu terpaut pada fiksi. Semakin saya banyak membaca mereka, semakin dalam pemahaman saya tentang apa dan bagaimana fiksi kita.

Friday, February 7, 2014

[CERPEN] Cerita yang Tersimpan Antara Hujan dan Waktu



Ilustrasi gambar diambil dari sini
“Aku tak mau turun dulu. Aku akan menunggu sampai mereka baik-baik saja,” ucap Hujan merendahkan suaranya.

Waktu tersenyum. Hujan masih murung. Seperti anak kecil yang sedang merajuk.

 “Turunlah. Dengan lembut..” kata Waktu.

Saturday, January 25, 2014

[Cerpen] Roman Picisan Seorang Laki-laki

Ilustrasi Karya: Cahya Maulana (@maulanacahya)
Aku masih ingat dengan malam itu. Kini baru aku tahu, bahwa malam itu seperti malam yang mengambil semua harapanku tentang perempuan itu. Harapan yang bahkan tidak kuketahui sebagai harapan. Karena setelah malam itu, aku terbiasa memiliki hidup yang biasa saja. Berjalan sesuai apa yang ada di hadapanku, tanpa ingin berharap yang lebih. Berharap yang lain. 

Monday, January 20, 2014

Tidak Sekedar Cinta di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


Takdir, barangkali serupa kereta yang berjalan dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Dikendarai oleh masinis dan ditentukan oleh waktu. Kita menaikinya karena membeli sebuah tiket dan telah mempersiapkan diri, ke manapun tujuan kita, saat kita sudah berada dalam kereta maka nasib kita ditentuka oleh masinis, waktu dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di antara keduanya.

Terlebih saat kita menjadi seorang penumpang dalam sebuah pesawat, pun tiket sudah terbeli, nasib kita benar-benar ditentukan sang pilot, waktu, dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di antara keduanya.

Tapi takdir sedikit berbeda bagi seorang Zainuddin, tokoh utama dalam karya besar Hamka; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.