Showing posts with label Buku Bacaan. Show all posts
Showing posts with label Buku Bacaan. Show all posts

Saturday, February 8, 2014

Gadis Pantai dan Cintanya Pramoedya

Kembali pada resolusi saya, one book one post. Saya mengaku mengalami fase tertentu yang membuat saya tidak bisa menuliskan ulasan-ulasan buku yang saya baca, langsung setelah saya membacanya. Dalam pembacaan dua buku terakhir --Gadis Pantai dan Sang Alkemis, tepat setelah menyelesaikajn halaman terakhir, saya mengalami fase blank dan tidak bisa mengomentari apapun yang ada dalam kedua novel tersebut. Saya tidak tahu, apakah ini wajar atau saya yang malas menulis. Tapi apapun itu, saya akan tetap menjalaninya. Saya akan tetap menjalankan rencana saya. Karena bagaimanapun, saya merasakan hal yang lain semenjak merencanakan membaca buku dan menuliskan ulasannya, yang membuat saya selalu terpaut pada fiksi. Semakin saya banyak membaca mereka, semakin dalam pemahaman saya tentang apa dan bagaimana fiksi kita.

Monday, January 20, 2014

Tidak Sekedar Cinta di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


Takdir, barangkali serupa kereta yang berjalan dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Dikendarai oleh masinis dan ditentukan oleh waktu. Kita menaikinya karena membeli sebuah tiket dan telah mempersiapkan diri, ke manapun tujuan kita, saat kita sudah berada dalam kereta maka nasib kita ditentuka oleh masinis, waktu dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di antara keduanya.

Terlebih saat kita menjadi seorang penumpang dalam sebuah pesawat, pun tiket sudah terbeli, nasib kita benar-benar ditentukan sang pilot, waktu, dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di antara keduanya.

Tapi takdir sedikit berbeda bagi seorang Zainuddin, tokoh utama dalam karya besar Hamka; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Thursday, January 2, 2014

Biasa tapi Luar Biasa-nya Dengarlah Nyanyian Angin karya Haruki Murakami


Saya baru saja memulai resolusi saya sendiri, yaitu one book one post on blog. Saya sendiri memulai resolusi ini dengan perasaan gelisah karena merasa tidak membaca apa-apa selama ini. Bagaimana mungkin kita bisa menulis tanpa membaca? Bagaimana mungkin kita bekerja tanpa makan?

Tapi saya cukupkan kegelisahan itu. Sebagaimana tulisan saya sebelum ini yang bertemakan kegelisahan, saya memutuskan untuk "stop palnning and start doing" sebagai obat kegelisahan.

Hanya ada yang sedikit aneh pagi ini. Semakin membaca saya semakin gelisah. Kenapa ya?

Oke, cukup curhatnya.

Saya ingin mengulas sebuah novel dari Haruki Murakami berjudul Dengarlah Nyanyian Angin. 

Thursday, October 18, 2012

Selamat Datang, Kegelisahan!

Pada saat masalahmu menghampirimu, janganlah berkecil hati
Itu adalah pasangan hidupmu
Itu adalah takdirmu
Sesuatu yang sudah dipersiapkan untukmu, bahkan sebelum kau
dilahirkan
Itu adalah pelengkap hidupmu.
Itu adalah gurumu, maka cintailah dia

Sunday, June 24, 2012

Refleksi Sederhana: 99 Cahaya di Langit Eropa

Penyesalan dan Pencerahan

Teman, saya mengaku bersalah karena telah sangat terlambat membaca buku ini. Dan setelah membacanya, banyak hal yang saya rasa wajib saya bagikan, supaya ada sedikit pencerahan dalam kegelapan kondisi bangsa kita hari ini. Ya ~ sedikit cahaya akan sangat berarti.

Teman, kita telah dihantui rasa saling menodong, menyalahkan, membenarkan diri, dan memerangi. Mungkin kalian sering membaca berita di koran tentang korupsi, kriminalitas, suasana lingkungan dengan udara yang kotor, baliho-baliho perempuan cantik untuk promosi susu pelangsing tubuh, dilema konser-konser artis luar negeri atau bahkan konflik antar-agama yang masih belum berhenti.