Thursday, January 2, 2014

Biasa tapi Luar Biasa-nya Dengarlah Nyanyian Angin karya Haruki Murakami


Saya baru saja memulai resolusi saya sendiri, yaitu one book one post on blog. Saya sendiri memulai resolusi ini dengan perasaan gelisah karena merasa tidak membaca apa-apa selama ini. Bagaimana mungkin kita bisa menulis tanpa membaca? Bagaimana mungkin kita bekerja tanpa makan?

Tapi saya cukupkan kegelisahan itu. Sebagaimana tulisan saya sebelum ini yang bertemakan kegelisahan, saya memutuskan untuk "stop palnning and start doing" sebagai obat kegelisahan.

Hanya ada yang sedikit aneh pagi ini. Semakin membaca saya semakin gelisah. Kenapa ya?

Oke, cukup curhatnya.

Saya ingin mengulas sebuah novel dari Haruki Murakami berjudul Dengarlah Nyanyian Angin. 

Wednesday, January 1, 2014

Apa yang Sedang Kamu Gelisahkan?


Dari sekian banyak yang saya baca, dengarkan, dan bahkan saya alami, saya berkesimpulan bahwa kegelisahan bukanlah sesuatu yang aneh. Tentu saja terutama bagi kita yang masih berusia muda (walaupun saya sedang gelisah pada usia saya yang semakin menua). Tapi memang benar, kita ini masih muda. Bagi yang senasib dengan saya; setidaknya kita belum menikah, belum punya anak, sudah lulus kuliah, dan bebas memilih jalan apa yang harus kita tempuh. Ya, mungkin kata "bebas memilih jalan yang harus ditempuh" itu bagi sebagian besar orang hanyalah kata lain dari pengangguran.

Wednesday, November 6, 2013

Cerita Kita


Kita pernah menikmati senja di Jakarta
Di Pekalongan
Di Solo
Di Jogja

Di pantai: tempat kita
Pertama kali membuka hati
Pulang pergi,
Naik motor sendiri-sendiri

Tuesday, November 5, 2013

Cokelat



Sejak SMP, aku suka menyiapkan cokelat di tas sekolahku. Terutama saat menjelang tanggal 14 Februari tiba. Tapi pertanyaanku selalu sama. Pada siapa cokelat ini harus kuberikan?

Thursday, October 24, 2013

Akan Ada Suatu Masa


: Ayah

Selalu ada suatu masa. Di mana
Kata cinta menjadi tidak perlu dan erangan rindu tersendat oleh kelabu sepi

Selalu akan ada masa. Di mana
Kau bisikkan cinta lewat kernyitan dahimu, atau kau pelukkan sayang lewat amarah itu