Saturday, August 27, 2016

Happy Factor (Bukan Cerita Awkarin)

I was very excited!

Setelah sempat berminggu-minggu gelisah karena gemparnya kabar Awkarin, saya mendapat ide untuk menciptakan 'trend tandingannya'. Kebetulan, highlight tag yang sedang kami kerjakan di KapanLagi.com pada bulan Agustus ini mengambil tema #MerdekaDariMantan. 

Keinginan saya sederhana, ingin mengajak teman-teman sendiri berbagi cerita mereka buat move on dan mengemasnya dalam sajian apik yang enak dilihat. Karena sesungguhnya, saya yakin saya jauh lebih patah hati melihat vlog patah hati milik Awkarin dari pada patah hati yang dirasakan gadis 19 tahun itu sendiri.

Dan inilah dia. Hasil kerja keras mba Winda Carmelita (kameraman) dan mas Guntur Ishtar Aria (editor) yang bersikeras untuk menunjukkan bahwa patah hati itu tak selamanya buruk, Tidak harus menangis dan merengek di depan kamera. 

Patah hati itu tentu tidak mudah. Tapi semoga, cerita mereka berlima bisa jadi inspirasi bahwa perjuanganmu buat move-on bakal berakhir indah. Selamat nonton!





"Karena yang membuatmu mulia bukanlah drama kehidupan, tapi caramu yang tegas untuk meninggalkan hal-hal remeh demi kebaikan masa depan," (Anonymous) 

Thursday, August 18, 2016

Pernikahan Impian?


Akhirnya saya menulis tentang 'pernikahan' juga. Setelah beberapa waktu terakhir begitu sibuk menyiapkan apa pun yang tentu pernah disiapkan oleh banyak orang (catering, dekorasi, dst). Jadi, bukan cerita itu yang ingin saya tuliskan.

Saya ingin merekam kembali; sebenarnya, seperti apa sih pernikahan impian yang pernah saya bangun dulu?

Monday, July 18, 2016

Takdir Menulis: 'Tersesat' di KapanLagi.com

Liputan pertama di KapanLagi bersama make-up artist Andi Soraya.
 / Foto: KapanLagi.com
Barangkali saya merupakan satu dari 'pemimpi gila' yang hingga saat ini begitu percaya pada takdir. Belajar banyak dari Paulo Coelho lewat Alchemist, entah mengapa mitos-mitos dalam novel tersebut sangat membuat saya yakin. Kata sang penulis, semua orang ketika masih muda mengetahui takdir mereka.

Ada dua jenis manusia, yang pertama mereka yang percaya pada takdir dan memenuhinya. Kedua, yang 'berhenti' di tengah jalan. Pemberhentian itu bisa dipengaruhi banyak hal. Tapi yang paling sering terjadi adalah saat seseorang dihadapkan pada pilihan lain untuk menjadi orang yang dihargai di lingkup sosial tertentu. Ia pura-pura melupakan takdirnya dan memilih menjadi seseorang yang terhormat dengan posisi atau pekerjaan lain.

Sunday, July 3, 2016

Hai, Generasi Komentator!


Kita kini sedang hidup dalam dunia di mana semua orang bebas berkomentar. Demokrasi yang dulu sudah diperjuangkan itu terus berkembang. Nggak hanya protes di depan gedung DPR saja, semua orang bisa saling menilai, komen, hujat lewat beragam aplikasi chat group, Facebook, Twitter, atau apa saja. Topiknya bisa apa saja. Bahkan curhat dan saling sindir dengan musuh bebuyutan atau saingan kerja atau bahkan bos sendiri, juga bisa.

Tuesday, May 24, 2016

[Introspeksi] Kesederhaan Lagu 'Nyawa dan Harapan' Raisa Yang Dikirim Semesta


Saya dan Cahya semakin serius menyiapkan semuanya. Semakin dekat hari-hari 'besar' yang kami rencanakan datang, kami justru lebih sering berdebat. Bukan karena sibuk mendebat vendor-vendor, tapi justru soal diri saya sendiri.

Pada suatu malam lewat telepon, Cahya mengungkapkan perasaannya selama setahun atau hampir dua tahun terakhir. Katanya, "Terakhir kali aku melihatmu sebagai sosok 'Dibie' itu sebelum aku ke Jakarta (Februari 2015)".