Sunday, February 22, 2015

Menunggumu


Menunggu bukanlah hal yang baru untukku. Saat pertama kali aku memintamu untuk ikut perjalanan ke Ketep Pass, aku menantimu di gedung itu. Bangunan yang telah menjadikan kita sepasang kekasih, penuh cemburu, tawa, tangis dan kebimbangan ala anak muda lainnya.

Sejak saat kisah di gedung itu dimulai, banyak hal yang tak kusukai darimu. Begitu pula hal yang aku suka. Cara tertawamu, bicaramu, menangismu, bau badanmu saat belum mandi, gendut dan kurusnya kamu, marah dan cintamu.. Semua telah lekat. Telah membawaku dalam sebuah sekat yang dengan pasrah aku bahagia terjebak di dalamnya. 

Thursday, October 23, 2014

Nostalgia Rasa


Sudah lama aku tidak menuliskan apapun di halaman blog ini. Terima kasih buat kalian yang masih mau membuka, membaca, mengomentari atau hanya sekedar menjenguk beberapa tulisanku.

Kini sebuah kisah baru tengah dimulai. Tidak baru, sebenarnya. Sudah berjalan beberapa bulan. 

Tuesday, May 27, 2014

Kerja Sederhana


Saya sedang mempercayai bahwa kerja cepat dan buruk lebih baik dari pada bekerja bagus tapi lambat.

Apa pekerjaan kita? Sesederhana apa cara kita melakukannya? Secepat apa kita mendapatkan jumlah yang banyak, tapi buruk?

Saturday, February 8, 2014

Gadis Pantai dan Cintanya Pramoedya

Kembali pada resolusi saya, one book one post. Saya mengaku mengalami fase tertentu yang membuat saya tidak bisa menuliskan ulasan-ulasan buku yang saya baca, langsung setelah saya membacanya. Dalam pembacaan dua buku terakhir --Gadis Pantai dan Sang Alkemis, tepat setelah menyelesaikajn halaman terakhir, saya mengalami fase blank dan tidak bisa mengomentari apapun yang ada dalam kedua novel tersebut. Saya tidak tahu, apakah ini wajar atau saya yang malas menulis. Tapi apapun itu, saya akan tetap menjalaninya. Saya akan tetap menjalankan rencana saya. Karena bagaimanapun, saya merasakan hal yang lain semenjak merencanakan membaca buku dan menuliskan ulasannya, yang membuat saya selalu terpaut pada fiksi. Semakin saya banyak membaca mereka, semakin dalam pemahaman saya tentang apa dan bagaimana fiksi kita.

Friday, February 7, 2014

[CERPEN] Cerita yang Tersimpan Antara Hujan dan Waktu



Ilustrasi gambar diambil dari sini
“Aku tak mau turun dulu. Aku akan menunggu sampai mereka baik-baik saja,” ucap Hujan merendahkan suaranya.

Waktu tersenyum. Hujan masih murung. Seperti anak kecil yang sedang merajuk.

 “Turunlah. Dengan lembut..” kata Waktu.